Meulaboh. Hari pertama di tahun 2005, pukul 7.30 pagi, KRI yang mereka tumpangi mulai merapat di perairan Meulaboh setelah lima malam berlayar dari Jakarta. Ini ekspedisi bantuan pertama dari Jakarta, membawa bahan makanan, obat-obatan, dan personel. Sehari sebelumnya, ketika singgah di Sibolga, sekitar 200 orang personel tambahan naik, juga tim dokter dari FKUI yang di-drop dengan pesawat Casa dari Bengkulu.
Satu kilometer dari pantai, Meulaboh betul-betul seperti kota masti. Senja, Zul, dan wartawan-wartawan lain semua berdiri di haluan, mengamati dari jauh. Air laut alun, tapi terasa lebih dingin. Dari jauh, kota pelabuhan itu terlihat sepi.
Pukul 8.30, mereka memutuskan turun. Cerita tentang GAM yang konon telah turun gunung dan menunggu di sepanjang pantai, mereka halau jauh-jauh dari pikiran. Dermaga rusak dan tak bisa dirapati kapal perang itu. Jalan satu-satunya hanya dengan sekoci. Untunglah, tentara Angkatan Laut berbaik hati merapatkan mereka pertama-tama.
Santo, Iskandar, Jeff, Felix, Joe, Senja, dan Zul, ditambah Gustav dan Zainal dari Dispen Armabar, berdesak-desakan di sekoci yang tak seberapa besar itu. Sepanjang laju, mereka semua terdiam, tak ada yang bicara. Selalu dalam liputan bencana, satu pertanyaan yang sama bermain-main di kepala mereka : apa yang akan kami temui nanti disana?
Merapat di pantai, tempat itu ternyata tak benar-benar sepi. Serombongan tentara menyambut mereka. Mariner dari Yonmarhanlan I Belawan. Mereka sedang mendirikan tenda dan memasak di bawah pohon ketika rombongan Senja tiba.
Pak Parulian, seorang mariner berbadan besar, menyapa mereka.
“Sudah tak ada orang lagi di sini, yang selamat sudah mengungsi ke lapangan Kompi,” katanya sambil menyuguhkan the dari ceret aluminium. Tempat yang dimaksudnya adalah sebuah lapangan di markas Korem 012 Teuku Umar. Senja tahu tempat itu, di sana komandan-nya seorang colonel asal Bugis yang punya reputasi hebat dalam Perang Timor Timur.
“Tadi malam, kami sudah mengubur seratus enam mayat yang kami temukan di sini,” cerita Pak Parulian lagi.
Senja mengalihkan pandangan ke sekeliling. Aroma yang sejak tadi menyeruak mulai menusuk hidung. Di saku raincoat-nya, ada masker, tapi dia berniat tidak memakainya, kecuali betul-betul terpaksa.
….
“Turunkan dari Cikeas dulu, turunkan dari Cikeas dulu!”
Tiba-tiba, ada yang berteriak. Senja berusaha mencari tahu orangnya, tapi kerumunan orang yang berjubel menghalangi pandangannya.
Zul sudah siap dengan kameranya.
Proses penurunan bantuan itu memang agak terhambat karena kapal tidak bisa merapat ke dermaga yang rusak. Akhirnya, TNI Angkatan Laut menurunkan semua sekocinya untuk mengangkut barang-barang bantuan dari kapal yang buang jangkar agak jauh ke laut. Tentara dan relawan bekerja keras melawan ombak yang lumayan tinggi untuk mencapai pantai. Namun, ketika bantuan sudah terkumpul lumayan banyak di dermaga, bantuan tidak segera dibagikan.
“Cari yang dari Cikeas dulu!” Lagi-lagi, ada yang berteriak. Entah siapa yang bikin aturan bahwa bantuan dari Cikeas harus dibagikan terlebih dulu sebelum bantuan-bantuan dari lembaga lain.
Gila! Senja mengutuk dalam hati. Hari gini masih ada juga orang cari muka.
Kota pelabuhan ini benar-benar hancur. Rumah dan took ambruk atau hilang disapu air. Ada mobil nyungsep di atas tiang listrik atau parkir di garasi tetangga. Sebuah kapal kayu besar teronggok dekat ayunan anak-anak di taman. Pastilah hanya kekuatan mahadahsyat yang bisa melemparkannya begitu rupa. Lemari es, mesin cuci, CPU computer, mesin tik, sepeda, motor, mobil, semuanya bergabung menjadi rongsokan. Ada bros kembang masih terpasang di gaun berwarna hitam yang penuh lumpur.
Di tempat lain, buku-buku dan VCD berserakan. Senja membayangkan tempat itu bekas kamar seorang remaja muda yang sedang ceria-cerianya. Dia berpikir, pemiliknya mungkin masih terjebak di reruntuhan di bawah kakinya.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, Jeff, fotografer KBA itu, tampak sedang berusaha menegakkan sebuah tiang kayu yang diberinya tanda kain. Sesosok tubuh lagi ditemukannya ketika sedang memotret.
Hanya begitulah yang mereka bisa. Kadang-kadang, mereka berpikir tentang fardu kifayah, bahwa betapa berdosanya mereka yang tak bisa berbuat banyak menyaksikan tubuh-tubuh yang membusuk itu. Hanya memberinya tanda dan berharap orang lain segera menemukannya. Padahal, mereka juga punya dua lengan yang sama sehatnya.
Di sepanjang perjalanan menumpang truk tentara menuju tempat pengungsian, pemandangan semakin menyakitkan mata dan hidung. Mayat-mayat dijejer di pinggir atau median jalan, menunggu relawan mengangkutnya ke kuburan massal. Senja teringat pada obrolannya malam sebelumnya di atas kapal dengan seorang bapak penumpang dari Sibolga. Semua keluarganya tinggal di Meulaboh. Berhari-hari, dia menunggu tumpangan hanya untuk menemukan keluarganya dan memastikan mereka jika memang tak terselamatkan--tidak dikubur di kuburan massal. Setidaknya, agar ada makam yang bisa diziarahi.
Kembali di dermaga setelah berkeliling, Senja bertemu dengan Pak Suherman, seorang pegawai sipil Kodim. Setiap hari, sejak bencana itu dating, dia mengais-ngais puing-puing rumahnya, berharap menemukan jasad istri dan anaknya. Hari itu, setelah seharian membongkar-bongkar bersama seorang anaknya yang berhasil selamat, dia menemukan mayat anak kecil. Bukan mayat anak yang dicarinya, tapi tetap diangkatnya dan dimasukkannya ke kantong plastic hitam. Katanya, nanti akan dikuburkan di mana sempat.
Pak Suherman minta kepada anaknya supaya menceritakan kembali kejadian itu kepada Senja. Bocah itu bercerita denganterbata-bata, tapi selalu berhasil menyelesaikan kalimatnya. Senja yang tak kuat, dan cepat-cepat meninggalkan mereka setelah mengucapkan simpati dan mendoakan dia segera menemukan istri dan anaknya—setidaknya dalam bentuk jasad.
Ini kedua kalinya Senja mendatangi Meulaboh. Dan, dia bisa membandingkan keadaan kota ini dulu dan sekarang. Kota pantai ini telah hilang. Rasanya, kamera yang mereka bawa tak merekam gambar apa-apa selain kerusakan.
Tiga jam setelah menginjakkan kaki di pantai itu, Senja baru merasa matanya basah. Di kejauhan, sebuah masjid tampak tegak berdiri di antara reruntuhan di sekitarnya. Senja menarik napas dalam-dalam, merasakan dadanya sesak oleh sebuah pertanyaan : Tuhan, apa yang sesungguhnya ingin Kau sampaikan?
Sumber : Novel Mencari Tepi Langit,
Karya : Fauzan Mukrim.
Penerbit : Gagas Media
Tahun : 2010


0 comments:
Post a Comment